Banyak orang tua mengeluhkan anak yang sulit diajak belajar. Baru beberapa menit membuka buku, anak sudah ingin bermain, menonton televisi, atau menggunakan gadget. Tidak sedikit pula orang tua yang akhirnya memarahi atau memaksa anak agar mau belajar. Sayangnya, cara tersebut justru sering membuat anak semakin tidak menyukai kegiatan belajar.
Padahal, pada dasarnya setiap anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka senang mengeksplorasi hal-hal baru, bertanya, dan mencoba berbagai pengalaman. Yang sering menjadi masalah bukanlah anak tidak suka belajar, tetapi cara belajar yang dirasa membosankan atau terlalu menekan.
Kabar baiknya, minat belajar dapat dibangun sejak dini melalui kebiasaan yang positif. Dengan pendekatan yang tepat, anak akan memandang belajar sebagai aktivitas yang menyenangkan, bukan sebagai beban.
Berikut enam cara yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak lebih menyukai proses belajar.
Anak-anak belajar paling baik ketika mereka merasa senang. Oleh karena itu, cobalah mengubah kegiatan belajar menjadi aktivitas yang lebih interaktif.
Misalnya, saat belajar berhitung, gunakan benda-benda yang ada di rumah seperti buah, mainan, atau balok. Saat belajar membaca, gunakan buku cerita bergambar yang menarik. Jika sedang belajar bahasa Inggris, ajak anak bernyanyi atau bermain tebak gambar.
Belajar tidak harus selalu dilakukan dengan duduk diam di depan meja selama satu jam. Justru melalui permainan edukatif, anak akan lebih mudah memahami konsep tanpa merasa sedang "dipaksa" belajar.
Semakin banyak pengalaman belajar yang menyenangkan, semakin besar kemungkinan anak akan menyukai proses belajar itu sendiri.
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah hanya memberikan apresiasi ketika anak mendapatkan nilai tinggi.
Padahal, usaha yang dilakukan anak juga layak dihargai.
Misalnya, ketika anak berhasil menyelesaikan latihan matematika sendiri atau berani mencoba membaca meskipun masih terbata-bata, berikan pujian seperti:
Pujian seperti ini membantu anak memahami bahwa proses belajar lebih penting daripada sekadar mendapatkan nilai sempurna. Anak pun akan lebih percaya diri untuk terus mencoba meskipun melakukan kesalahan.
Anak membutuhkan rutinitas agar terbiasa dengan suatu kebiasaan.
Daripada belajar dalam waktu yang sangat lama, lebih baik buat jadwal belajar singkat tetapi dilakukan secara rutin.
Sebagai contoh:
Rutinitas seperti ini membantu anak memahami bahwa belajar merupakan bagian dari kegiatan sehari-hari, sama seperti makan, mandi, atau tidur.
Namun, hindari membuat jadwal yang terlalu padat. Anak tetap membutuhkan waktu untuk bermain, beristirahat, dan berinteraksi dengan teman-temannya.
Lingkungan belajar juga sangat memengaruhi konsentrasi anak.
Usahakan anak memiliki tempat belajar yang:
Selain itu, simpan perlengkapan belajar seperti pensil, penghapus, buku, dan penggaris di tempat yang mudah dijangkau agar anak tidak kehilangan fokus saat belajar.
Suasana yang nyaman membuat anak lebih mudah berkonsentrasi dan menikmati proses belajar.
Kalimat seperti:
mungkin terdengar sepele, tetapi dapat memberikan dampak negatif bagi anak.
Setiap anak memiliki kemampuan dan kecepatan belajar yang berbeda. Membandingkan mereka dengan orang lain justru dapat menurunkan rasa percaya diri dan membuat anak merasa usahanya tidak pernah cukup.
Sebaliknya, bandingkan perkembangan anak dengan dirinya sendiri.
Misalnya:
"Hari ini kamu sudah bisa membaca satu halaman penuh. Minggu lalu baru setengah halaman. Wah, ada perkembangan yang bagus!"
Pendekatan seperti ini membantu anak melihat bahwa dirinya terus berkembang sehingga motivasi belajarnya pun meningkat.
Banyak orang tua berkata, "Ayo belajar!" tetapi kemudian meninggalkan anak belajar sendirian.
Padahal, kehadiran orang tua sering kali menjadi sumber semangat terbesar bagi anak.
Tidak perlu selalu mengajari seluruh materi. Cukup duduk di samping anak, mendengarkan ketika ia membaca, membantu jika mengalami kesulitan, atau memberikan semangat saat ia mulai lelah.
Anak akan merasa bahwa belajar adalah aktivitas yang dilakukan bersama, bukan kewajiban yang harus dijalani sendirian.
Hubungan yang hangat selama belajar juga dapat membangun kebiasaan positif dalam jangka panjang.
Selain menerapkan cara-cara di atas, ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari karena justru dapat membuat anak semakin tidak menyukai belajar.
Belajar seharusnya menjadi proses yang menyenangkan, bukan sesuatu yang menimbulkan rasa takut.
Apabila anak sudah mendapatkan dukungan di rumah tetapi masih mengalami kesulitan memahami pelajaran, kehilangan minat belajar dalam waktu yang lama, atau sering merasa tidak percaya diri saat mengerjakan tugas sekolah, pendampingan tambahan dapat membantu.
Melalui bimbingan yang lebih personal, anak memiliki kesempatan untuk belajar sesuai dengan kecepatan dan gaya belajarnya masing-masing. Hal ini sering kali membuat anak lebih berani bertanya, lebih percaya diri, dan lebih mudah memahami materi dibandingkan saat belajar di kelas yang jumlah siswanya banyak.
Di Fun Teacher Private (FTP), setiap sesi belajar dirancang agar menyenangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa. Tutor tidak hanya membantu memahami materi sekolah, tetapi juga membangun kebiasaan belajar yang positif serta meningkatkan rasa percaya diri anak. Orang tua pun akan menerima detail report pembelajaran setelah setiap pertemuan sehingga perkembangan anak dapat dipantau dengan lebih jelas.