"Kenapa huruf b ditulis menjadi d?"
"Kenapa angka 6 dan 9 sering tertukar?"
"Apakah anak saya mengalami disleksia?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering muncul ketika orang tua mendapati anak menulis huruf atau angka secara terbalik. Tidak sedikit orang tua yang langsung merasa cemas, terutama jika anak sudah memasuki usia sekolah tetapi masih sering menulis huruf seperti b, d, p, q, atau angka 6 dan 9 secara terbalik.
Sebenarnya, anak yang sering menulis terbalik belum tentu mengalami disleksia. Pada banyak kasus, kondisi ini masih termasuk normal, terutama pada anak usia prasekolah dan awal sekolah dasar. Namun, orang tua tetap perlu memahami kapan kondisi tersebut masih wajar dan kapan perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Lalu, apakah anak yang sering menulis terbalik merupakan hal yang normal atau justru tanda disleksia? Simak penjelasannya berikut ini.
Kabar baiknya, pada sebagian besar anak usia dini, menulis huruf atau angka secara terbalik merupakan hal yang cukup umum terjadi.
Anak usia 4 hingga 7 tahun masih berada dalam tahap mengenal bentuk huruf, angka, serta memahami konsep arah kiri dan kanan. Pada fase ini, otak anak masih belajar membedakan berbagai simbol yang bentuknya hampir serupa.
Misalnya:
Karena kemampuan visual dan persepsi ruang anak masih berkembang, tidak heran jika sesekali mereka menulis atau membaca simbol tersebut secara terbalik.
Selama frekuensinya mulai berkurang seiring bertambahnya usia dan latihan, orang tua umumnya tidak perlu terlalu khawatir.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan anak sering menulis terbalik.
Salah satu penyebab paling umum adalah karena anak masih berada pada tahap awal belajar membaca dan menulis.
Pada fase ini, anak sedang berusaha mengingat bentuk, nama, dan bunyi setiap huruf. Karena proses tersebut masih berlangsung, kesalahan seperti menulis huruf secara terbalik sangat mungkin terjadi.
Sebagai contoh, anak mungkin mengetahui bunyi huruf "b", tetapi belum sepenuhnya mengingat arah lengkung huruf tersebut. Akibatnya, huruf "b" dapat ditulis menyerupai huruf "d".
Kondisi ini biasanya akan membaik seiring bertambahnya pengalaman membaca dan menulis.
Menulis bukan hanya melibatkan kemampuan motorik, tetapi juga kemampuan visual.
Anak perlu memahami posisi, arah, ukuran, dan bentuk suatu simbol. Kemampuan ini dikenal sebagai persepsi visual-spasial.
Pada usia dini, kemampuan tersebut masih berkembang. Oleh karena itu, anak terkadang kesulitan membedakan bentuk yang mirip atau menentukan arah penulisan yang benar.
Hal ini merupakan bagian dari proses perkembangan yang normal.
Sebagian anak masih kesulitan membedakan arah kiri dan kanan. Padahal, kemampuan ini sangat dibutuhkan dalam proses membaca dan menulis.
Jika anak belum memahami konsep arah dengan baik, mereka mungkin mengalami kesulitan menentukan posisi huruf yang tepat saat menulis.
Tidak hanya pada huruf, anak juga dapat mengalami kesulitan saat mengikuti arah tulisan dari kiri ke kanan.
Semakin sering anak berlatih membaca dan menulis, semakin kuat pula ingatan mereka terhadap bentuk huruf dan angka.
Sebaliknya, jika kesempatan latihan masih terbatas, anak mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk menguasai bentuk huruf secara konsisten.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk memberikan stimulasi yang cukup melalui kegiatan membaca buku, menulis sederhana, bermain kartu huruf, atau aktivitas edukatif lainnya.
Setiap anak memiliki kesiapan belajar yang berbeda.
Terkadang, anak dipaksa untuk menguasai kemampuan membaca dan menulis sebelum benar-benar siap secara perkembangan. Kondisi ini dapat membuat anak merasa tertekan dan justru semakin sering melakukan kesalahan.
Alih-alih memaksa, orang tua sebaiknya memberikan stimulasi secara bertahap sesuai usia dan kemampuan anak.
Jawabannya adalah tidak.
Menulis huruf atau angka terbalik saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seorang anak mengalami disleksia. Disleksia merupakan gangguan belajar spesifik yang memengaruhi kemampuan membaca, mengeja, dan memproses bahasa. Anak dengan disleksia biasanya menunjukkan beberapa tanda lain, bukan hanya menulis terbalik. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung mendiagnosis anak hanya berdasarkan satu gejala saja.
Meskipun sering menulis terbalik masih dapat dianggap normal pada usia tertentu, orang tua perlu lebih waspada apabila kondisi berikut terjadi:
Jika beberapa tanda tersebut muncul secara bersamaan dan berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, orang tua dapat berkonsultasi dengan profesional, seperti psikolog anak atau ahli tumbuh kembang, untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak.
Latihan yang dilakukan secara konsisten dapat membantu anak semakin familiar dengan bentuk huruf dan angka.
Tidak perlu terlalu lama. Luangkan waktu sekitar 10 hingga 15 menit setiap hari agar anak tetap merasa nyaman saat belajar.
Anak usia dini cenderung belajar lebih baik melalui aktivitas yang menyenangkan.
Orang tua dapat menggunakan kartu huruf, balok alfabet, permainan mencocokkan huruf, pasir, plastisin, atau papan tulis sebagai media belajar.
Belajar sambil bermain akan membuat anak lebih mudah mengingat bentuk huruf.
Melatih pemahaman arah dapat membantu anak membedakan posisi huruf dengan lebih baik.
Misalnya, melalui permainan sederhana seperti menunjukkan tangan kiri dan kanan, mengikuti arah, atau bermain puzzle.
Kesalahan saat belajar merupakan bagian yang wajar dari proses perkembangan.
Memarahi anak karena sering menulis terbalik justru dapat membuat mereka kehilangan rasa percaya diri dan enggan belajar.
Sebaliknya, berikan dukungan dan apresiasi atas setiap kemajuan yang dicapai anak.
Jika anak tampak mengalami kesulitan belajar membaca dan menulis, pendampingan yang tepat dapat membantu mereka belajar dengan lebih nyaman.
Metode belajar yang menyenangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan anak akan membuat proses belajar menjadi lebih efektif.
Anak yang sering menulis huruf atau angka secara terbalik belum tentu mengalami disleksia. Pada usia 4 hingga 7 tahun, kondisi ini masih sering ditemukan dan umumnya merupakan bagian dari proses belajar yang normal.
Namun, apabila kesulitan tersebut terus berlanjut hingga usia yang lebih besar serta disertai kesulitan membaca, mengeja, dan belajar di sekolah, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga profesional untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Jika Ayah dan Bunda membutuhkan pendampingan belajar membaca dan menulis yang lebih personal, Fun Teacher Private siap membantu anak belajar dengan metode yang menyenangkan, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
Karena setiap anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda, pendampingan yang tepat dapat membantu mereka berkembang dengan lebih percaya diri.