“Sudah waktunya belajar, ayo buka bukunya.”
Tapi anak malah menghindar, ingin bermain, menonton, atau bahkan langsung mengeluh, “Aku nggak mau belajar.”
Situasi seperti ini mungkin cukup sering dialami orang tua. Ketika anak berkali-kali sulit diajak belajar, respons yang muncul terkadang adalah menganggap anak malas atau tidak memiliki kemauan untuk belajar.
Padahal, anak susah belajar tidak selalu berarti anak malas.
Ada banyak alasan yang membuat anak enggan belajar. Bisa jadi materi yang dipelajari terasa terlalu sulit, anak sedang lelah, suasana belajar kurang nyaman, atau cara belajar yang digunakan belum sesuai dengan kebutuhannya.
Daripada langsung memarahi atau memberikan label “malas”, orang tua bisa mencoba memahami penyebabnya terlebih dahulu. Dengan begitu, solusi yang diberikan juga bisa lebih tepat.
Salah satu alasan anak enggan belajar adalah karena materi yang dihadapi terasa sulit.
Misalnya, anak sebenarnya sudah berusaha memahami matematika, tetapi masih bingung dengan konsep perkalian. Ketika materi berikutnya semakin kompleks, anak bisa merasa tertinggal dan akhirnya memilih menghindari belajar.
Dalam kondisi seperti ini, anak mungkin bukan tidak mau belajar. Anak bisa saja takut menghadapi sesuatu yang menurutnya terlalu sulit.
Orang tua dapat membantu dengan memecah materi menjadi bagian-bagian kecil. Jangan langsung memberikan banyak soal. Pastikan anak memahami konsep dasarnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke materi berikutnya.
Setiap anak mempunyai karakter dan kebutuhan belajar yang berbeda.
Ada anak yang lebih mudah memahami materi melalui gambar dan warna. Ada yang lebih suka mendengarkan penjelasan, melakukan praktik, bermain sambil belajar, atau mengerjakan latihan secara langsung.
Jika anak terus-menerus diminta belajar dengan cara yang tidak cocok untuknya, kegiatan belajar bisa terasa membosankan.
Karena itu, orang tua bisa mencoba berbagai pendekatan. Misalnya, menggunakan kartu bergambar untuk mengenalkan kosakata bahasa Inggris, benda di sekitar untuk belajar berhitung, atau permainan sederhana untuk membantu anak memahami konsep tertentu.
Anak juga bisa sulit berkonsentrasi ketika tubuh dan pikirannya sudah lelah.
Setelah mengikuti kegiatan sekolah seharian, perjalanan pulang, bermain, mengikuti kegiatan tambahan, dan aktivitas lainnya, anak mungkin membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Memaksakan belajar ketika anak sudah sangat lelah justru dapat membuat kegiatan belajar semakin tidak efektif.
Orang tua bisa memberikan waktu istirahat terlebih dahulu. Setelah anak lebih rileks, ajak belajar dalam waktu yang lebih singkat tetapi fokus.
Belajar tidak harus selalu berjam-jam. Kualitas dan konsistensi belajar juga penting.
Lingkungan belajar sangat berpengaruh terhadap konsentrasi anak.
Televisi yang menyala, suara gadget, mainan yang berada di dekat anak, atau suasana rumah yang terlalu ramai dapat membuat anak lebih mudah terdistraksi.
Apalagi bagi anak yang masih kecil, kemampuan mempertahankan fokus masih berkembang.
Cobalah membuat area belajar yang lebih tenang. Tidak harus mempunyai ruang belajar khusus. Meja sederhana dengan pencahayaan yang baik dan minim gangguan pun sudah cukup.
Simpan sementara benda yang berpotensi mengalihkan perhatian anak ketika waktu belajar dimulai.
Jika waktu belajar selalu berubah-ubah, anak mungkin kesulitan membangun kebiasaan.
Hari ini belajar pukul 4 sore, besok pukul 8 malam, lusa tidak belajar sama sekali. Pola yang tidak konsisten membuat anak tidak mempunyai ekspektasi yang jelas mengenai kapan waktunya belajar.
Orang tua bisa membuat rutinitas belajar sederhana.
Tidak perlu langsung menetapkan waktu belajar yang panjang. Misalnya, anak memiliki waktu belajar selama 20–30 menit setiap sore setelah beristirahat.
Yang terpenting adalah konsistensi. Seiring waktu, anak dapat mulai memahami bahwa belajar merupakan bagian dari rutinitas sehari-hari.
Ini sering kali tidak terlihat sebagai penyebab anak susah belajar.
Anak yang pernah dimarahi karena mendapatkan nilai rendah atau salah menjawab soal mungkin menjadi takut melakukan kesalahan lagi.
Akhirnya, daripada menjawab salah, anak memilih tidak mencoba.
Orang tua bisa mengubah respons terhadap kesalahan anak. Ketika anak memberikan jawaban yang salah, jangan langsung mengatakan, “Masa begitu saja tidak bisa?”
Coba gunakan kalimat seperti:
“Tidak apa-apa kalau masih salah. Yuk, kita lihat lagi bagian yang belum kamu pahami.”
Dengan begitu, anak belajar bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses belajar, bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Terkadang anak sudah berusaha belajar, tetapi masih kesulitan karena belum menemukan cara untuk memahami materi.
Misalnya, anak sebenarnya ingin bisa mengerjakan soal matematika, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ketika tidak ada yang membimbing, anak akhirnya menyerah dan memilih melakukan aktivitas lain.
Dalam kondisi seperti ini, pendampingan yang lebih personal dapat membantu.
Orang tua bisa menemani anak belajar, memberikan contoh soal, atau mencari metode pembelajaran yang lebih sesuai. Jika orang tua memiliki keterbatasan waktu atau kesulitan mendampingi materi tertentu, les privat juga dapat menjadi salah satu pilihan.
Dengan pendampingan yang lebih personal, tutor dapat menyesuaikan penjelasan, tingkat kesulitan, dan aktivitas belajar dengan kebutuhan anak.
Setelah mengetahui penyebabnya, orang tua bisa mencoba beberapa langkah sederhana berikut:
Jangan langsung menyimpulkan anak malas. Coba perhatikan apakah anak kesulitan memahami materi, kelelahan, mudah terdistraksi, atau justru takut melakukan kesalahan.
Daripada meminta anak belajar semua materi sekaligus, buat target kecil.
Contohnya:
Target yang sederhana dapat membuat tugas terasa lebih mudah dilakukan.
Anak membutuhkan waktu untuk beristirahat, terutama ketika sudah mulai kehilangan konsentrasi.
Belajar sebentar dengan fokus bisa lebih efektif daripada memaksa anak duduk berjam-jam tetapi tidak memahami materi.
Jangan hanya memberikan pujian ketika anak mendapatkan nilai tinggi.
Apresiasi juga usahanya.
Misalnya:
“Mama lihat kamu sudah berusaha mengerjakan soal ini sampai selesai.”
Hal sederhana seperti ini dapat membantu anak memahami bahwa usaha dan proses juga penting.
“Lihat teman kamu sudah bisa, kok kamu belum?”
Kalimat seperti ini mungkin dimaksudkan untuk memotivasi, tetapi justru dapat membuat anak merasa tidak mampu.
Setiap anak mempunyai perkembangan dan kecepatan belajar yang berbeda. Lebih baik bandingkan perkembangan anak dengan dirinya sendiri.
Belajar tidak harus selalu berupa membaca buku dan mengerjakan soal.
Orang tua dapat menggunakan permainan, gambar, cerita, flashcard, benda di sekitar rumah, atau aktivitas praktik untuk membuat materi lebih mudah dipahami.
Belum tentu.
Anak yang sulit diajak belajar mungkin sedang menghadapi kesulitan yang belum bisa ia sampaikan. Bisa karena materi terlalu sulit, tubuh lelah, lingkungan kurang mendukung, metode belajar tidak sesuai, atau anak membutuhkan pendampingan lebih.
Karena itu, sebelum mengatakan anak malas, coba tanyakan:
“Apa yang membuat kamu susah belajar?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi awal untuk memahami kebutuhan anak.
Jika anak terus mengalami kesulitan memahami materi tertentu, orang tua juga dapat mempertimbangkan pendampingan belajar yang lebih personal. Dengan metode dan ritme belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan anak, kegiatan belajar diharapkan terasa lebih nyaman dan tidak menjadi sesuatu yang ditakuti.
Fun Teacher Private menyediakan layanan les privat yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar anak, baik secara online maupun offline. Dengan pendampingan yang lebih personal, anak dapat belajar sesuai kemampuan dan berkembang secara bertahap.