Kuliah bukan hanya tentang mendapatkan nilai bagus dan menyelesaikan tugas. Sebelum masuk dunia kerja, mahasiswa juga perlu mempersiapkan berbagai skill yang dibutuhkan di dunia kerja agar lebih siap menghadapi tuntutan profesional.
Persaingan kerja yang semakin kompetitif membuat ijazah saja belum tentu cukup. Perusahaan juga mempertimbangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, memecahkan masalah, menggunakan teknologi, hingga beradaptasi dengan perubahan.
Kabar baiknya, sebagian besar skill tersebut bisa dilatih sejak masih kuliah. Tidak harus menunggu lulus atau mendapatkan pekerjaan pertama.
Lalu, skill apa saja yang wajib dimiliki mahasiswa sebelum masuk dunia kerja? Berikut beberapa kemampuan yang penting untuk mulai diasah dari sekarang.
Masa kuliah merupakan kesempatan yang baik untuk mencoba berbagai hal tanpa tekanan dunia kerja yang sebenarnya.
Mahasiswa dapat mengikuti organisasi, magang, kepanitiaan, proyek, perlombaan, kegiatan sukarela, maupun pekerjaan freelance untuk mengembangkan kemampuan sekaligus mendapatkan pengalaman.
Dengan mulai mempersiapkan skill sejak kuliah, mahasiswa tidak hanya memiliki gelar ketika lulus, tetapi juga mempunyai kemampuan yang dapat ditunjukkan kepada calon perusahaan.
Hal ini juga membantu mahasiswa menjawab pertanyaan penting saat melamar pekerjaan:
“Apa yang bisa kamu lakukan dan kontribusi apa yang bisa kamu berikan?”
Tidak semua skill harus dikuasai sekaligus. Mulailah dari kemampuan yang paling relevan dengan bidang yang ingin ditekuni.
Komunikasi merupakan salah satu skill penting yang hampir dibutuhkan di setiap pekerjaan.
Di dunia kerja, mahasiswa akan berinteraksi dengan atasan, rekan kerja, klien, pelanggan, maupun pihak lain.
Kemampuan komunikasi bukan hanya tentang berbicara dengan lancar. Mahasiswa juga perlu mampu:
Cara melatihnya bisa dimulai dari hal sederhana, seperti aktif berdiskusi di kelas, mengikuti organisasi, melakukan presentasi, atau mencoba menjadi moderator dalam suatu kegiatan.
Di dunia kerja, seseorang tidak selalu diberikan instruksi yang sangat detail.
Ada kalanya karyawan harus menganalisis situasi, mencari informasi, mempertimbangkan berbagai pilihan, kemudian menentukan keputusan.
Karena itu, critical thinking atau berpikir kritis menjadi skill yang penting untuk dimiliki mahasiswa.
Berpikir kritis berarti tidak langsung menerima informasi begitu saja. Mahasiswa perlu mampu bertanya:
Skill ini juga semakin penting di tengah banyaknya informasi yang tersedia di internet dan perkembangan teknologi AI.
Setiap pekerjaan pasti memiliki masalah.
Laptop bermasalah, deadline berubah, data tidak sesuai, pelanggan mengajukan komplain, atau strategi yang direncanakan ternyata tidak memberikan hasil.
Karena itu, perusahaan membutuhkan orang yang tidak hanya bisa mengatakan “ada masalah”, tetapi juga berusaha mencari solusi.
Kemampuan problem solving dapat dilatih sejak kuliah melalui tugas kelompok, organisasi, kepanitiaan, proyek, hingga kegiatan sehari-hari.
Biasakan untuk tidak berhenti pada pertanyaan:
“Apa masalahnya?”
Tetapi lanjutkan dengan:
“Kenapa masalah ini terjadi dan apa solusi yang paling mungkin dilakukan?”
Kuliah sering kali membuat mahasiswa harus mengatur banyak kegiatan sekaligus.
Ada tugas, ujian, organisasi, kegiatan kampus, magang, pekerjaan freelance, hingga kehidupan pribadi.
Kemampuan mengatur waktu menjadi penting agar berbagai tanggung jawab tersebut tidak saling mengganggu.
Mahasiswa dapat mulai melatih time management dengan:
Di dunia kerja, kemampuan menyelesaikan pekerjaan sesuai deadline merupakan bagian penting dari profesionalisme.
Sebagian besar pekerjaan dilakukan bersama orang lain.
Karena itu, mahasiswa perlu belajar bagaimana bekerja dalam sebuah tim dengan orang yang memiliki karakter, cara berpikir, dan kebiasaan berbeda.
Teamwork bukan berarti selalu setuju dengan semua anggota tim.
Mahasiswa justru perlu belajar bagaimana menyampaikan pendapat, mendengarkan masukan, membagi tugas, menyelesaikan konflik, dan tetap fokus pada tujuan bersama. Pengalaman organisasi, kepanitiaan, proyek kelompok, maupun kegiatan komunitas dapat menjadi tempat yang baik untuk melatih kemampuan ini.
Dunia kerja terus berubah.
Teknologi baru muncul, sistem kerja berubah, kebutuhan perusahaan berkembang, dan seseorang mungkin harus mempelajari hal baru setelah diterima bekerja.
Karena itu, salah satu kemampuan penting adalah adaptability atau kemampuan beradaptasi.
Mahasiswa tidak harus mengetahui semua hal sejak awal. Yang lebih penting adalah memiliki kemauan untuk belajar.
Misalnya, jika perusahaan menggunakan software yang belum pernah digunakan sebelumnya, kemampuan untuk mempelajari dan memahami software tersebut dengan cepat dapat menjadi nilai tambah.
Hampir setiap bidang pekerjaan saat ini bersinggungan dengan teknologi.
Karena itu, mahasiswa perlu memiliki digital literacy atau literasi digital.
Kemampuan ini tidak berarti semua mahasiswa harus menjadi programmer. Setidaknya, mahasiswa perlu memahami cara menggunakan teknologi secara efektif, aman, dan bertanggung jawab.
Beberapa kemampuan digital yang dapat mulai dipelajari antara lain:
Skill digital dapat disesuaikan lagi dengan bidang pekerjaan yang dituju.
Tidak semua pekerjaan mengharuskan seseorang berbicara di depan ratusan orang. Namun, kemampuan menyampaikan ide secara lisan tetap dapat berguna dalam banyak situasi.
Misalnya saat:
Mahasiswa dapat mulai melatihnya melalui presentasi kelas, organisasi, seminar, atau sekadar membiasakan diri menjelaskan suatu topik secara terstruktur.
Tidak perlu langsung menjadi pembicara yang sempurna. Yang penting adalah belajar menyampaikan pesan dengan jelas dan percaya diri.
Bahasa Inggris menjadi salah satu skill yang dapat membuka lebih banyak peluang kerja.
Kemampuan Bahasa Inggris dapat membantu mahasiswa memahami informasi, menggunakan software atau sumber belajar internasional, berkomunikasi dengan pihak dari negara lain, hingga melamar pekerjaan di perusahaan yang membutuhkan kemampuan bahasa asing.
Tidak harus langsung menguasai grammar secara sempurna.
Mulailah dari kemampuan yang paling sering digunakan dalam dunia profesional, seperti:
Semakin sering digunakan, kemampuan Bahasa Inggris akan semakin terbiasa.
Networking adalah kemampuan membangun dan menjaga hubungan profesional dengan orang lain.
Bagi mahasiswa, networking bisa dimulai dari lingkungan yang sangat dekat.
Misalnya:
Networking bukan berarti hanya menghubungi seseorang ketika sedang membutuhkan pekerjaan.
Bangun hubungan secara natural. Ikuti kegiatan yang relevan, bertukar informasi, dan tetap menjaga komunikasi secara profesional.
Hubungan yang dibangun sejak kuliah dapat menjadi salah satu sumber informasi mengenai peluang magang, pekerjaan, maupun perkembangan industri.
Mahasiswa mungkin sering mendengar istilah hard skill dan soft skill.
Hard skill adalah kemampuan teknis yang berkaitan dengan pekerjaan tertentu.
Contohnya:
Sementara itu, soft skill berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, bekerja sama, mengatur diri, dan menghadapi masalah.
Contohnya:
Lalu, mana yang lebih penting?
Jawabannya adalah keduanya saling melengkapi.
Seseorang mungkin memiliki hard skill yang sangat baik, tetapi akan kesulitan bekerja jika tidak mampu berkomunikasi atau bekerja sama dengan tim.
Sebaliknya, soft skill yang baik juga perlu didukung kemampuan teknis yang sesuai dengan pekerjaan.
Karena itu, mahasiswa sebaiknya mengembangkan kombinasi hard skill dan soft skill sesuai dengan bidang karier yang dituju.
Tidak perlu menunggu sampai mendapatkan pekerjaan untuk mulai mengembangkan skill.
Ada banyak aktivitas selama kuliah yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat latihan.
Organisasi dapat melatih teamwork, komunikasi, leadership, problem solving, dan manajemen waktu.
Magang memberikan kesempatan untuk merasakan lingkungan kerja secara langsung.
Mahasiswa dapat belajar bagaimana berkomunikasi secara profesional, mengikuti deadline, menggunakan tools kerja, dan bekerja dalam tim.
Tidak memiliki pengalaman kerja bukan berarti tidak memiliki pengalaman.
Mahasiswa dapat membuat proyek pribadi yang sesuai dengan bidang yang ingin ditekuni.
Misalnya, mahasiswa yang tertarik dengan digital marketing dapat membuat blog, mengelola media sosial, atau melakukan proyek SEO sederhana.
Hasilnya dapat dimasukkan ke dalam portofolio.
Gunakan waktu luang untuk mempelajari kemampuan yang relevan dengan pekerjaan yang ditargetkan.
Tidak harus mengikuti banyak kursus sekaligus. Pilih skill yang benar-benar ingin digunakan.
Jangan menunggu sampai mendapatkan panggilan interview untuk mulai berlatih.
Coba siapkan jawaban untuk pertanyaan umum seperti:
Latihan dapat membuat mahasiswa lebih percaya diri ketika menghadapi interview sebenarnya.
Tidak semua mahasiswa perlu menguasai skill yang sama.
Mahasiswa jurusan Informatika mungkin perlu memperkuat programming, data, atau cybersecurity.
Mahasiswa yang ingin berkarier di bidang marketing dapat mempelajari digital marketing, SEO, copywriting, analytics, dan content creation.
Sementara mahasiswa yang tertarik dengan bidang pendidikan dapat memperkuat kemampuan mengajar, komunikasi, lesson planning, dan teknologi pembelajaran.
Jadi, jangan hanya mengikuti tren.
Tanyakan kepada diri sendiri:
“Saya ingin bekerja sebagai apa setelah lulus?”
Setelah itu, cari tahu skill yang biasanya dibutuhkan untuk posisi tersebut dan mulai pelajari satu per satu.
Sebelum lulus, coba cek kemampuan berikut:
Tidak harus semuanya sempurna. Checklist ini dapat menjadi gambaran mengenai kemampuan yang sudah dimiliki dan bagian mana yang masih perlu dikembangkan.
Memiliki gelar pendidikan merupakan pencapaian penting, tetapi persiapan menuju dunia kerja sebaiknya tidak berhenti pada akademik.
Mahasiswa perlu mulai mengembangkan berbagai skill yang dibutuhkan di dunia kerja, seperti komunikasi, berpikir kritis, problem solving, manajemen waktu, teamwork, adaptasi, literasi digital, Bahasa Inggris, public speaking, dan networking.
Selain soft skill, mahasiswa juga perlu memiliki setidaknya satu atau beberapa hard skill yang sesuai dengan bidang karier yang ingin dituju.
Tidak perlu menunggu sampai lulus untuk memulainya. Organisasi, magang, proyek pribadi, kursus, kepanitiaan, dan berbagai kegiatan kampus dapat menjadi tempat untuk melatih kemampuan tersebut.
Semakin awal skill dibangun, semakin siap mahasiswa menghadapi dunia kerja.
Yang terpenting bukan menjadi mahasiswa yang menguasai semuanya, tetapi menjadi seseorang yang mau belajar, mampu beradaptasi, dan memiliki kemampuan yang relevan dengan tujuan kariernya.