Belajar membutuhkan perhatian dan konsentrasi. Namun, tidak semua anak bisa duduk tenang dan fokus mengerjakan tugas dalam waktu lama. Ada anak yang baru belajar beberapa menit sudah mulai melihat mainan, membuka gadget, mengobrol, atau melakukan aktivitas lain.
Jika sering terjadi, orang tua mungkin bertanya-tanya, kenapa anak susah fokus belajar?
Sebenarnya, sulit berkonsentrasi tidak selalu berarti anak malas belajar. Ada banyak faktor yang dapat membuat anak mudah kehilangan fokus, mulai dari lingkungan belajar, kondisi fisik, metode belajar, hingga materi yang terasa terlalu sulit.
Daripada langsung memarahi anak, orang tua sebaiknya mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu. Dengan begitu, cara yang digunakan untuk membantu anak fokus belajar juga bisa lebih tepat.
Kemampuan fokus anak berkembang secara bertahap. Anak usia dini tentu memiliki rentang perhatian yang berbeda dengan anak SD atau SMP.
Selain usia, beberapa kondisi berikut juga dapat memengaruhi kemampuan anak untuk berkonsentrasi saat belajar.
Lingkungan yang ramai dapat membuat anak lebih mudah terdistraksi.
Suara televisi, orang yang sedang berbicara, mainan yang berada di dekat meja belajar, atau notifikasi dari gadget dapat mengalihkan perhatian anak.
Karena itu, tempat belajar yang nyaman tidak harus selalu memiliki dekorasi yang menarik. Justru, semakin banyak gangguan visual dan suara, semakin sulit bagi anak untuk mempertahankan perhatian.
Tips: pilih tempat belajar yang cukup tenang dan jauhkan benda yang tidak diperlukan selama sesi belajar.
Anak yang mengantuk atau kelelahan biasanya akan lebih sulit berkonsentrasi.
Memaksakan belajar ketika tubuh dan pikiran anak sudah lelah justru dapat membuat proses belajar menjadi tidak efektif.
Pastikan anak mendapatkan waktu tidur dan istirahat yang cukup sesuai kebutuhannya. Jadwal belajar juga sebaiknya disesuaikan dengan waktu ketika anak biasanya lebih siap menerima materi.
Pernah melihat anak tiba-tiba tidak mau belajar ketika bertemu soal Matematika atau Bahasa Inggris?
Bisa jadi masalahnya bukan karena anak tidak mau belajar, tetapi karena anak belum memahami konsep yang sedang dipelajari.
Ketika materi terasa terlalu sulit, anak dapat merasa frustrasi. Akibatnya, perhatian lebih mudah teralihkan dan anak memilih melakukan aktivitas lain yang terasa lebih menyenangkan.
Jika hal ini terjadi, jangan langsung menambah jumlah soal. Coba kembali ke konsep dasar dan gunakan contoh yang lebih sederhana.
Setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda.
Ada anak yang lebih mudah memahami materi melalui gambar. Ada yang lebih senang belajar sambil melakukan aktivitas. Ada pula yang lebih mudah memahami materi setelah mendengarkan penjelasan.
Jika anak harus terus-menerus membaca atau mengerjakan soal tanpa variasi, ia bisa merasa bosan.
Orang tua dapat mencoba variasi seperti:
Belajar selama berjam-jam tidak otomatis membuat anak lebih banyak memahami materi.
Anak membutuhkan jeda agar tidak merasa terlalu lelah. Terutama untuk anak usia SD, sesi belajar yang terlalu panjang dapat membuat konsentrasi menurun.
Daripada memaksa anak belajar selama dua jam tanpa berhenti, orang tua dapat membaginya menjadi beberapa sesi yang lebih pendek dengan jeda di antaranya.
Misalnya:
25 menit belajar → 5 menit istirahat → 25 menit belajar
Durasi tersebut dapat disesuaikan dengan usia dan kemampuan konsentrasi anak.
Setelah mengetahui penyebabnya, langkah berikutnya adalah mencari cara yang sesuai untuk membantu anak meningkatkan konsentrasinya.
Berikut beberapa strategi yang dapat dicoba di rumah.
Anak akan lebih mudah mengikuti kegiatan jika memiliki rutinitas yang jelas. Misalnya, setelah pulang sekolah anak makan, beristirahat, bermain sebentar, kemudian belajar pada waktu yang sama setiap hari.
Rutinitas tidak harus sangat ketat. Yang penting, anak memiliki gambaran kapan waktunya belajar dan kapan waktunya bermain. Konsistensi dapat membantu belajar menjadi kebiasaan, bukan aktivitas yang hanya dilakukan ketika ada tugas atau ujian.
Sebelum mulai belajar, pastikan area belajar sudah cukup siap.
Beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan:
Dengan mengurangi gangguan, anak tidak perlu menggunakan terlalu banyak energi untuk mengabaikan hal-hal di sekitarnya.
Jangan memberikan terlalu banyak materi sekaligus.
Misalnya, daripada meminta anak mempelajari 20 kosakata Bahasa Inggris sekaligus, bagi menjadi beberapa kelompok kecil.
5 kosakata → latihan → istirahat → 5 kosakata berikutnya.
Cara ini membuat target belajar terasa lebih ringan.
Anak juga dapat melihat kemajuannya sedikit demi sedikit sehingga tidak mudah merasa kewalahan.
Belajar tidak selalu harus dilakukan dengan membaca buku dan mengerjakan soal.
Orang tua bisa mengubah materi menjadi aktivitas yang lebih interaktif.
Contohnya:
Matematika: gunakan uang mainan untuk belajar penjumlahan dan pengurangan.
Bahasa Inggris: gunakan flashcard untuk menghafalkan vocabulary.
IPA: lakukan eksperimen sederhana yang aman di rumah.
Bahasa Indonesia: ajak anak membuat cerita pendek berdasarkan gambar.
Aktivitas seperti ini dapat membuat anak lebih aktif terlibat dalam proses belajar.
Instruksi yang terlalu panjang dapat membuat anak bingung.
Daripada mengatakan:
"Coba sekarang kerjakan semua soal di halaman 20 sampai 25, nanti setelah itu baca materi berikutnya."
Cobalah membaginya menjadi langkah yang lebih sederhana:
"Kita kerjakan lima soal dulu, ya. Setelah selesai, kita cek bersama."
Setelah anak menyelesaikan satu target, berikan instruksi berikutnya.
Ketika anak berhasil fokus, jangan hanya memperhatikan hasil akhirnya.
Apresiasi juga proses yang sudah dilakukan.
Misalnya:
"Tadi kamu bisa fokus mengerjakan lima soal sampai selesai. Bagus!"
Pujian yang spesifik membantu anak mengetahui perilaku positif apa yang sudah dilakukannya.
Namun, hindari menjadikan hadiah sebagai satu-satunya alasan anak mau belajar. Tujuannya adalah membantu anak membangun kebiasaan dan motivasi belajar secara bertahap.
Jika anak selalu kehilangan fokus ketika mempelajari materi tertentu, coba perhatikan lebih jauh.
Misalnya:
Pola tersebut dapat menjadi petunjuk bahwa anak mungkin membutuhkan pendekatan berbeda atau penguatan pada konsep tertentu.
Jadi, jangan hanya bertanya "Kenapa kamu tidak fokus?", tetapi coba tanyakan juga:
"Bagian mana yang menurut kamu paling sulit?"
Tidak ada satu durasi belajar yang cocok untuk semua anak.
Kemampuan konsentrasi dipengaruhi oleh usia, kondisi fisik, jenis aktivitas, tingkat kesulitan materi, serta kebiasaan anak.
Yang lebih penting adalah memperhatikan tanda-tanda ketika konsentrasi mulai menurun.
Misalnya anak mulai:
Jika tanda tersebut muncul, anak mungkin membutuhkan jeda singkat sebelum melanjutkan belajar.
Gadget sering dianggap sebagai penyebab utama anak sulit berkonsentrasi. Padahal, masalahnya tidak sesederhana itu.
Gadget memang dapat menjadi distraksi jika digunakan tanpa batas atau pada waktu belajar. Namun, beberapa perangkat dan aplikasi juga dapat digunakan sebagai media pembelajaran.
Yang perlu diperhatikan adalah tujuan dan cara penggunaannya.
Jika gadget digunakan untuk menonton video pembelajaran, mencari informasi, atau mengerjakan latihan interaktif, orang tua tetap perlu menetapkan batas waktu dan memastikan konten yang digunakan sesuai usia anak.
Jika anak sudah mencoba berbagai cara tetapi tetap kesulitan memahami materi atau mempertahankan fokus saat belajar, pendampingan tambahan seperti Fun Teacher Private dapat menjadi salah satu pilihan.
Les privat dapat memberikan suasana belajar yang lebih personal karena tutor dapat menyesuaikan materi, kecepatan belajar, dan bentuk latihan dengan kebutuhan anak.
Pendampingan belajar juga dapat membantu orang tua mengetahui bagian materi yang masih belum dipahami anak.
Namun, tujuan les bukan sekadar membuat anak belajar lebih lama. Yang lebih penting adalah membantu anak memahami materi, menemukan cara belajar yang sesuai, dan menjadi lebih percaya diri.