Setiap anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda. Ada anak TK yang sudah mengenal banyak huruf dan mulai lancar membaca, ada yang lebih cepat memahami angka, bahkan sudah bisa mengerjakan penjumlahan dan pengurangan sederhana.
Misalnya, anak sudah mampu menjawab soal seperti 2 + 3 = 5 atau 7 - 2 = 5 tanpa banyak bantuan. Kemampuan tersebut tentu menjadi perkembangan yang positif, terutama jika anak memahami konsep jumlah dan tidak sekadar menghafalkan jawaban.
Namun, kemampuan berhitung tidak berarti harus selalu diikuti kemampuan membaca dan menulis pada tingkat yang sama. Bisa saja anak sudah cukup lancar berhitung, tetapi masih mengeja ketika membaca atau membutuhkan bantuan saat menulis.
Hal yang paling penting adalah memberikan stimulasi calistung sesuai kemampuan dan tahap belajar anak tanpa menjadikan proses belajar sebagai tekanan.
Calistung merupakan singkatan dari membaca, menulis, dan berhitung. Ketiganya menjadi kemampuan dasar yang dapat dikenalkan kepada anak secara bertahap melalui aktivitas sehari-hari.
Pada usia TK, proses belajar calistung sebaiknya tidak hanya dilakukan melalui lembar soal atau latihan berulang. Anak juga membutuhkan kegiatan yang membuat mereka dapat mengenal huruf, angka, kata, dan konsep jumlah melalui permainan serta aktivitas yang menyenangkan.
Contohnya, kemampuan berhitung dapat dikenalkan melalui kegiatan menghitung mainan, buah, balok, atau benda di sekitar rumah. Sementara itu, kemampuan membaca dapat distimulasi melalui buku cerita, kartu huruf, dan permainan mencocokkan gambar dengan kata.
Dengan begitu, anak tidak merasa sedang dipaksa belajar, tetapi tetap mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan calistung.
Jika anak sudah mampu melakukan penjumlahan dan pengurangan sederhana, bukan berarti latihan berhitung harus langsung dibuat semakin sulit.
Justru, orang tua dapat memperkuat konsep dasar terlebih dahulu. Pastikan anak memahami bahwa angka mewakili jumlah benda tertentu.
Misalnya, ketika mengajarkan 3 + 2, gunakan tiga buah balok kemudian tambahkan dua balok. Ajak anak menghitung seluruh balok dan menemukan hasilnya.
Cara seperti ini membantu anak memahami bahwa penjumlahan berarti menggabungkan jumlah, sedangkan pengurangan berarti mengambil sebagian dari jumlah yang ada.
Setelah konsepnya dipahami, anak dapat perlahan dikenalkan dengan soal dalam bentuk angka.
Selain berhitung, kemampuan membaca dan menulis juga tetap perlu dilatih agar perkembangan calistung anak lebih seimbang.
Membaca tidak harus selalu dimulai dengan meminta anak membaca banyak kata dalam satu waktu.
Orang tua dapat memulainya dengan membacakan buku cerita bergambar. Setelah itu, ajak anak mengenali huruf atau kata sederhana yang sering muncul.
Misalnya, ketika membaca cerita tentang kucing, orang tua dapat menunjukkan kata “kucing” dan mengajak anak mengenali huruf-huruf di dalamnya.
Aktivitas seperti ini membuat anak memahami bahwa huruf yang mereka pelajari memiliki makna dan digunakan untuk membentuk kata.
Kemampuan menulis anak TK tidak langsung terbentuk hanya dengan meminta anak menyalin banyak kata.
Sebelum menulis huruf dan kata, anak perlu terbiasa mengontrol gerakan tangan dan memegang alat tulis.
Orang tua dapat mengajak anak melakukan aktivitas seperti:
Jika anak mulai terlihat lelah, sebaiknya beri jeda. Latihan yang singkat tetapi dilakukan secara rutin dapat lebih efektif daripada belajar terlalu lama hingga anak kehilangan minat.
Anak TK bisa belajar penjumlahan dan pengurangan melalui benda yang mereka temui setiap hari.
Misalnya, orang tua memiliki lima buah jeruk. Kemudian dua jeruk diberikan kepada anak.
Orang tua dapat bertanya:
“Tadi ada lima jeruk. Kalau diambil dua, sekarang tinggal berapa?”
Anak kemudian dapat menghitung langsung benda yang tersedia.
Aktivitas sederhana seperti ini membantu anak memahami hubungan antara angka dan jumlah benda secara konkret.
Calistung akan terasa lebih menyenangkan ketika dikemas sebagai permainan.
Beberapa ide yang bisa dilakukan di rumah antara lain:
Permainan juga dapat membuat anak lebih aktif selama proses belajar sehingga mereka tidak mudah merasa bosan.
Salah satu hal yang sering dilupakan dalam mengajarkan calistung adalah tingkat kesulitan.
Ketika anak sudah mampu mengerjakan penjumlahan sederhana, bukan berarti orang tua harus langsung memberikan soal yang jauh lebih sulit.
Cobalah meningkatkan tantangan secara bertahap.
Misalnya:
Tahap 1:
1 + 2 = ...
Tahap 2:
3 + 4 = ...
Tahap 3:
Ani memiliki 3 apel. Ibu memberikan 2 apel lagi. Berapa jumlah apel Ani sekarang?
Dengan cara tersebut, anak tidak hanya belajar menghitung angka, tetapi juga mulai memahami penerapan matematika dalam situasi sederhana.
Melihat anak sudah bisa membaca, menulis, atau melakukan penjumlahan dan pengurangan tentu membuat orang tua bangga. Namun, kemampuan calistung bukan perlombaan.
Anak yang belum lancar membaca bukan berarti tidak pintar. Begitu pula anak yang belum bisa melakukan penjumlahan bukan berarti tertinggal.
Setiap anak memiliki proses belajar yang berbeda.
Daripada membandingkan kemampuan anak dengan teman atau saudara seusianya, lebih baik perhatikan perkembangan anak dari waktu ke waktu.
Misalnya, jika sebelumnya anak baru mengenal angka 1–5 dan sekarang sudah dapat menghitung hingga 20, itu merupakan perkembangan yang patut diapresiasi.
Begitu pula ketika anak yang sebelumnya masih kesulitan mengenali huruf mulai dapat membaca beberapa kata sederhana.
Kemajuan kecil tetap merupakan kemajuan.
Tidak perlu khawatir jika kemampuan anak dalam membaca, menulis, dan berhitung tidak berkembang dengan kecepatan yang sama.
Anak mungkin memiliki ketertarikan lebih besar pada angka sehingga lebih cepat memahami penjumlahan dan pengurangan. Sementara itu, kemampuan membaca dan menulis masih membutuhkan lebih banyak latihan.
Orang tua dapat memanfaatkan kemampuan yang sudah dikuasai anak untuk membantu kemampuan lainnya.
Contohnya, jika anak menyukai angka, gunakan angka sebagai bagian dari permainan membaca dan menulis. Anak dapat diajak membaca angka, menulis angka, menghitung benda, kemudian perlahan mengenal kata-kata sederhana.
Dengan begitu, kegiatan belajar terasa lebih dekat dengan hal yang sudah disukai anak.
Tidak semua orang tua memiliki waktu yang cukup untuk mendampingi anak belajar setiap hari. Ada pula orang tua yang merasa kesulitan menentukan aktivitas atau tingkat materi yang sesuai dengan kemampuan anak.
Dalam kondisi seperti ini, pendampingan belajar dapat menjadi salah satu pilihan.
Pendampingan yang dilakukan secara personal memungkinkan kegiatan belajar disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan anak. Misalnya, anak yang sudah cukup kuat dalam berhitung dapat diberikan aktivitas membaca dan menulis yang lebih banyak, sementara kemampuan berhitungnya tetap dipertahankan melalui permainan.
Yang tidak kalah penting, proses belajar tetap dibuat menyenangkan sehingga anak tidak menganggap calistung sebagai sesuatu yang menakutkan atau membosankan.
Melatih calistung anak TK tidak harus selalu dilakukan dengan duduk mengerjakan lembar soal. Anak dapat belajar melalui permainan, cerita, aktivitas berhitung, latihan menulis, dan berbagai kegiatan yang disesuaikan dengan kemampuan mereka.
Jika orang tua membutuhkan pendampingan belajar yang lebih terarah, Fun Teacher Private menyediakan layanan les privat yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan jenjang belajar anak.
Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat terus mengembangkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung secara bertahap tanpa kehilangan kesenangan dalam belajar.
Pada akhirnya, tujuan belajar calistung bukan sekadar membuat anak cepat bisa. Yang lebih penting adalah membantu anak memahami, terbiasa, percaya diri, dan menikmati proses belajar.